![]() |
-Sketsa Rumah Dita- |
Rumah ini tidak terlalu luas tapi cukup menampung 1 anggota keluarga yang terdiri dari Papah, Mamah, Derry, Saya dan Dicky juga berfungsi melindungi kami dari panasnya matahari, dinginnya malam, derasnya hujan dan kencangnnya angin.
Sudah cukup lama saya menetap di rumah dalam gang.. Kira-kira 6 tahun lebih lama dari umur dicky sekarang, buat pasti : 14 Tahun yang lalu.
Bicara soal sejarah saya mau cerita sedikit tentang ini.
Mamah pernah satu kali cerita pada saya tentang kehidupan kami dulu, bisa disamakan dengan orang-orang yang hidup di zaman pra-sejarah. Kami hidup nomaden : ngontrak dari satu rumah ke rumah lain yang masi sekitaran Kota Bandung. Bisa dibayangkan hebohnya kedua orang tua saya kala itu? mengemas barang-barang sambil mengurus dua anaknya yang masih pada kecil, waktu itu Dicky memang belum ada.
Kegiatan itu rutin dilakukan satu tahun sekali sampai masa kontrak selesai. Seolah Tuhan mendengar doa kedua orang tua saya, pencerahan pun datang. Disaat usia saya memasuki 5 tahun, Papah sudah bisa membelikan kami rumah yang lokasinya di dalam gang. Rumahnya berdempetan dengan rumah nenek dan beberapa saudara. Singkat cerita, kami pun tinggal di rumah yang berstatus milik pribadi.
Rumah ini berdiri di pinggir jalan yang lebarnya tak lebih dari 4 M. Itulah rumah dalam Gang.
kadang kalau ada orang yang bertanya, "Dita, kamu rumahnya dimana?" . jawab singkat" Di Gang."
Semakin banyak orang yang bertanya rumah saya semakin berkuasa imajinasi saya mengelabui pikiran yang pada akhirnya buat drop sendiri. Padahal sebenernya ga gitu juga. Misalnya di hadapan saya ada orang yang menanyakan alamat rumah dan saya jawab "di gang", lalu imajinasi saya liar membayangkan orang tersebut meletakkan tangan di pinggang sedikit menaikan alis lalu berkata:
"Rumah dalam gang itu yang jalannya sempit kan? yang cuma bisa dilalui pejalan kaki, sepeda, motor dan paling mentok sama becak? Rumah gang itu yang selalu ramai dengan anak kecil? Rumah gang itu yang K*mu* itu kan?#SKIP" .
Semakin saya mencoba menghempasnya semakin jadi bisikan busuk itu muncul. Dan pada akhirnya saya menyatakan menyerah dan ikut pada pikiran buruk itu. Saya jadi merasa gengsi untuk bilang rumah saya di gang, saya amat sangat benci tentang hal apapun yang ada di gang. Ketika pergi keluar rumah untuk sampai ke jalan besar saya harus susuri sepanjang jalan yang berkelok-kelok juga sempit, belum lagi harus membiasakan diri dari kebisingan anak-anak yang bermain di depan rumah teriakan dan tawa mereka itu memegakan telinga, belum lagi di malam hari di ganggu dengan para kaum remaja yang nongkrong sambil nyanyi pakai gitar.
Dan yang paling pooollll buat saya minder adalah ketika teman-teman saya datang dan tahu keadaan rumah seperti ini. Rasanya mau mati saja. .HUAaAAAaaa....
Tapi lambat laun, saya membuang jauh-jauh pikiran itu dan terus belajar menerima sampai akhirnya saya menikmatinya. Hidup dalam gang sempit ini buat saya belajar. Saya menjadi lebih sabar setiap kali keluar rumah karena harus berpetualang di jalan berkelok-kelok, lalu saya jadi lebih dekat dengan orang-orang sekitar karena hidup bertetangga itu lebih banyak manfaatnya ketimbang sedikit tetangga, dan untuk masalah suara-suara liar itu saya jadi tahu seni-nya. Kadang di kala saya sendu, saya justru terhibur dengan suara-suara gitar fals..
Saya sudah bisa menerima semua ini :)
~ Berselang beberapa tahun saya tinggal, baru kali ini kedua orang tua saya membuka topik tentang rumah ini.
Kemarin pagi Papah dan Mamah berbincang soal kelanjutan hidup selanjutnya, di kaitkan dengan semua itu Mamah bilang rumah ini akan di jual. Nampaknya mereka serius dengan ini. Mereka juga bilang kalau memang ada orang yang menawar rumah ini sebesar Rp.300jt maka dengan ikhlas mereka melepasnya.
Dan rencananya mereka akan beli rumah di komplek.
Mendengar ucapan mereka itu saya jadi sedih. Kenapa ya? Padahal tinggal di rumah besar dan punya akses jalan besar itu sudah menjadi impian saya sejak dulu. Tapi kenapa saya sedikit ragu untuk ikut rencana itu. Apa karena hati saya sudah ada di rumah ini?.
Rumah tipe 45 ini memang sudah memberikan cerita banyak buat saya. Kalau menggalau begini, begitu lepas pikiran untuk saya mengingat kejadian kecil yang seolah itulah moment berharga di kehidupan saya.
Disini, tempat saya melepaskan jenuh. Disini, tempat saya berfikir. Disini, orang tua saya mencurahkan kasih sayangnnya. Disini, saya di ajarkan sholat. Disini, lantunan suara Adzan begitu jelas terdengar.Disini, saya belajar suka-dukanya kehidupan.
Alangkah sayangnya jika semua itu akan berakhir.
Komentar
Posting Komentar