Langsung ke konten utama

[PENASARAN]

Foto : Internet
[12 April 12]
Semalam tadi saya bermimpi bertemu seseorang yang selama ini tak pernah enyah dari pikiran saya sehingga bathin ini terus bergejolak.
Hati ini punya ruang yang saya sendiri bingung ada berapa ruangan yang saya miliki . Tapi yang saya pahami ada satu ruang yang entah layak dikatakan apa, mungkin cinta,. mungkin harapan. mungkin juga cita-cita. Entahlah !  saya biasa sebut ruang itu adalah 'sebuah tanya' . 
Tidak tahu kapan question in my room(katakanlah hati) ini bisa dibalas dengan sebuah answer.
Dan ketika saya terbangun dari tidur tadi malam saya pikir saya harus bertindak. Saya tidak bisa terus menerus diam, memendam, berprasangka hingga akhirnya yang saya dapatkan hanyalah sebuah kebimbangan. Tapi balik lagi need time to process of all these uncertainty. Ga semudah yang di bayangin. Ibarat sebuah puzzle , beberapa tahapan yang harus saya kerjakan adalah mencari setiap potongan lalu saya disatukan setiap potongan itu sehingga saya tahu apa yang sedang dirangkai itu. 

Satu kekuatan yang berasal dari entah berantah mendorong saya untuk membuat satu keputusan ini, saya harus segera bertindak, menemuinya dan tidak boleh di tunda lagi.
Karena semakin lama saya mengulur waktu semakin sakit luka ini. Terlebih saya takut, saya takut kehilangan dirinya...
Segera saya buka phone book di handphone. Nama yang masih sama, panggilan rahasia untuknya. "gigi tak rata". 
Mendadak jari tangan saya gemetaran begitu hebat, jantung saya berdegup begitu kencang. Alangkah lucunya perasaan ini, sampai-sampai membuat saya seperti orang linglung padahal suatu yang tidak sulit untuk menekan tombol 'panggil' .
Dengan kekuatan bathin dan pengambilan napas yang panjang, saya pun memberanikan diri untuk menghubunginya. Saya tempelkan dua earphone di kiri dan kanan telinga. Saya ingin mendengar suaranya dengan sangat jelas.
~nada sambung ~"Endless Love"
Ternyata dia masih setia dengan nomor tua (re:lama) -nya itu. Irama jantung pun sudah tidak karuan.
Tak lama yang khas muncul dan begitu jernih terdengar di telinga saya.
" Haloo...." jawabnya
" Haa...."
Klik. saya tekan tombol merah dan telepon pun terputus. Tidak tahu kenapa mulut ini terasa begitu kaku, saya sulit sekali berbicara.
Kecepatan jari saya mengalahkan suara saya yang ingin membalas "Halo"

Saya semakin penasaran, saya mencoba menyiapkan diri saya untuk kembali menghubunginya. Dan kali ini harus berhasil, HARUS. Saya tidak mau membuang waktu saya lagi. Namun rasanya sulit sekali mungkin lebih baik lewat pesan singkat. Mungkin itu akan memperingan rasa gugup ini.


To : "gigi tak rata" (+62856201*****)
  Hai apa kabar ? maaf tadi yang menelepon kamu itu saya, Felisa.
Hari ini apa ada waktu? boleh saya ganggu kamu sebentar saja. Saya tunggu jam 7 di cafe Brontus.

5 menit kemudian, dia membalas pesan ini.
Fr : "gigi tak rata" (+62856201*****)
oke saya hadir.

Kalimat yang tidak pernah panjang, selalu singkat dan ketus. Sejak dulu sifatnya tidak pernah berubah.
Jelas sudah dia tidak memiliki perasaan yang sama. Alangkah bodohnya aku.... aaahhh... (teriak dalam hati)

Breath in.....breath out.... breath in..... breath out....

waktu pun sudah menunjukkan pukul 19.00.
Disini saya sudah duduk menunggunya sejak pukul 17.00.
Tiga gelas hot chocolate sudah saya habiskan dan kali ini saya akan memesan gelas keempat. Entah bagaimana efek buat perut saya nanti. Tapi sungguh rasa gemetaran ini mendominasi rasa sakit di perut saya.
Saya mengalihkan pandangan saya pada seorang pria dan wanita yang duduk di sudut dinding cafe Brontus.
Mereka terlihat begitu bahagia. Sejak makanan yang mereka pesan tersedia di atas meja, mereka tak berhenti saling suap. Pemandangan yang begitu sempurna ketika dua insan manusia yang sedang di mabuk cinta menransferkan kasih sayang keduanya dari hal-hal yang sederhana seperti itu :')
Andai aku seperti itu...... *berkhayal*

Kembali ke tujuan utama saya yaitu menunggu. Sampai dua jam ini saya masih setia menunggunya, bahkan sepuluh tahun saya menunggunya tanpa kepastian. Bila kesetian ini di kompetisikan. Saya yakin saya akan menang dan mendapatkan reward sebagai manusia setia. Ya! setia kepada hal yang tidak pasti.
Reward yang saya harapkan dari kesetiaan ini tidaklah banyak cukup dengan kami berdua saling memiliki perasaan yang sama, saling mencintai dan menyayangi juga saling support satu sama lain.
Entah saya yang bodoh atau feeling saya yang begitu yakin kalau dia menyimpan rasa juga pada saya sampai saya berani malu dan berani mengambil resiko seperti ini. Tapi andai kata dia pun memiliki perasaan yang sama kenapa dia tidak ungkapkan dulu.
Hah. sungguh dilema.
Mengingat berapa jam saya menunggunya ini adalah gelas kelima yang saya pesan. Saya tidak lagi memesan hot chocolate tapi saya memilih memesan jeruk panas.
Mungkin saya butuh minuman yang sedikit asam supaya mata ini terlihat lebih fresh . Walaupun sebenarnya tidak ada pengaruh apapun soal itu, yang ada perut saya sudah mulai terasa sakit. Tapi demi sebuah kepastian saya harus kuat. Saya bisa! Pasti bisa.
Saya coba lebih sabar untuk menunggunya lagi dan lagi. Kali ini jam dinding sudah menunjukkan pukul 8.45. 15 menit lagi waktu cafe ini tutup . 
Beberapa karyawan cafe itu sudah memasang wajah cemas beberapa diantara mereka memilih untuk menaikkan bangku-bangku yang kosong ke atas meja.
Rasa cemas yang kini saya rasakan, saya pesimis dia akan datang ke tempat ini. Saya mulai kecewa dengannya rasanya ingin sekali melempar lima gelas kosong itu tapi saya terus coba mengontrol emosi ini. Saya tidak bisa bertindak bodoh seperti itu, biarpun pada akhirnya saya akan kecewa.
Saya coba melobi hati saya untuk menunggunya 15 menit lagi. Saya mencoba meneleponnya tapi tak ada jawaban. Panggilan dialihkan. 
Rasanya benar-benar seperti orang bodoh. Kalau cinta tidak kesampaian memang harus seperti ini juga?
Kalau menunggu seseorang yang kita harapkan tapi orang itu acuh begitu saja, apa iya juga harus merasakan seperti ini?

15 menit pun terlewati tanpa ada perubahan sama sekali, cafe semakin sepi 
saya memutuskan untuk pulang. Saya meminta bill pada pelayan di sana menunggunya membuat saya harus membayar tagihan minuman sebanyak Rp. 200.000,- hasilnya saya pulang dengan rasa sakit yang amat sangat sakit.
Saya keluar dari pintu cafe dengan wajah yang semerawut. Ingin teriak tapi tak bisa... saya berjalan sempoyongan ke arah tempat parkir motor. 
Saya tidak ingin menangis, sungguh. 
Dan saya tidak menangis tapi dada ini rasanya sesak sekali. 
Ironis sekali mengalah pada nasib cinta yang tak jelas arahnya, kerap kali mencintai seseorang hanya cukup bisa mengagumi tanpa memiliki. 
Sepanjang jalan pikiran saya kosong dan setibanya di rumah saya berbaring di ranjang dan merengkuhkan badan. Kali ini air mata saya yang tidak kuat menahan sesak. 
Saya pun menangis terisak-isak sampai pagi harinya saya membuka mata dan saya tidak lagi merasakan rasa sakit. hati dan pikiran saya pun semuanya baik-baik saja.
Saya buka kotak pesan di handphone saya mencoba cari balasan pesan tanggal 12 April darinya tidak ada satu pun pesan masuk darinya. 
Saya mencoba merenung dan ternyata.... hari ini masih tanggal 12 April.
Benarkah? saya coba buka kalender memang nyata. Hari ini memang tanggal 12 April. 
Lalu kejadian semalam itu hanyalah mimpi dari mimpi saya(?)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menganalisa Persentase Bangunan dan Material

"Dita, mulai sekarang kamu sering-sering ke belakang ya. Lihat lapangan lalu analisis persentase pembangunan rumah-rumah yang sedang kita bangun buatkan juga saya laporan total material Yang terpakai. Tidak hanya melihat patokan RAB saja ya."   Begitulah kira-kira kalimat yang diucapkan atasan saya beberapa bulan kebelakang. Well, dengan kata lain mulai hari itu tugas saya di kantor bertambah, "Wadaww! gaji saya kapan nambah pak?" *Twew* dumel saya dalam hati.  Awalnya memang saya merasa ga ikhlas sih nerima kerjaan ini. Selain karena "ehem"-nya saya juga takut kerjaan saya jadi banyak yang keteteran gara-gara ini. Apalagi saya sering sekali melakukan keteledoran: by my own admission that is a bad habit . Uh! apalagi kalau di tambah seperti ini sudah tentu ingin nangis (cengeng, buk!)   Tapi ah, gimana mau tahu kemampuan diri kalau belum mencobanya. Kalau salah kan bukan berarti 100% kesalahan saya toh, ini bukan pekerjaan pokok saya. Lagipul...

TEORI ASAL USUL KEHIDUPAN

Teori asal usul kehidupan di bagi kedalam dua bagian, diantaranya : 1. Teori Abiogenesis          yaitu bahwa mahluk hidup berasal dari mahluk tak hidup. Tokoh yang menprakarsai teori tersebut adalah Aristoteles, tokoh pendukung teori ini diantaranya; Antonyvan Leeuwenhook dan John Needham. Contoh percobaan Abiogenesis 2. Teori Biogenis          yaitu bahwa semua kehidupan berasal dari sel telur ( omne vivum ex ivo), semua sel telur berasal dari kehidupan (omne ovum ex vivo), semua kehidupan berasal dari kehidupan ( omne vivum ex vivo ) . Teori tersebut berdasarkan pada percobaan yang dilakukan pada percobaan kontrol dan percobaan perlakuan. Tokoh yang memprakarsai teori tersebut adalah F. Redy, Lazzaro Spalanzoni, Louis Paster. Contoh percobaan Biogenesis. 1. Percobaan F. Redy  2. Percobaan Lazzaro Spalanzani 3. Percobaan Louis Pasteur 

Tentang 11 Januari

Foto : Internet Inilah kami saat bersama setelah ikrar suci yang kami ucapkan di 11 Januari tiga tahun silam. Bagi saya 3 tahun waktu yang cukup untuk bisa saling memahami satu sama lain.  Kami biasa melewatkan waktu pagi setelah sholat shubuh dengan duduk santai berdua di gazeboo ditemani coklat panas, donat toping keju dan embun pagi untuk sekedar berdiskusi tentang toko kue yang kami bangun bersama sejak tahun 2010, lalu pekerjaan utama kami sebagai karyawan saya di perusahaan developer dan dia di bidang advertisiment . Dialah imamku dan akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Kami memang belum dianugrahi mahluk-mahluk kecil namun kami berkeyakinan suatu saat mahluk kecil itu akan datang dan meramaikan rumah kami.  Kali ini saya akan membuat pengakuan, kali ini saya ingin berseru, " Saya bangga dan akan selalu bangga punya dia!".  Mungkin ini terkesan berlebihan tapi itulah yang saya rasakan dia selalu setia menemani saya, dia yang memberikan motivasi...