
Ia mencoba melonggarkan ikatan dasi yang melingkar di lehernya. Pandangannya kosong menerawang langit-langit kamar itu. Pikirannya terfokus pada satu sosok wanita yang telah ia nikahi 5 tahun silam.
Kali ini rasa rindu bergejolak hebat di hati sang pria, sebutlah ia Beno.
Sudah hampir 5 bulan ia jauh dari sang istri karena tugas kantor yang tidak bisa ia hindari. Kali ini ia bertugas di Kota Jakarta sedangkan sang istri berada di Jogja menjaga rumah dan toko kue yang mereka rintis berdua. Saat di jogja, ia tak pernah kehilangan moment kebahagian bersama sang istri. Di mulai dari jam 7 pagi, ia membuka toko kue-nya lalu melanjutkan kegiatan kerja di kantor dan sepulang dari kantor, sang istri sudah mempersiapkan beberapa makanan diatas meja dan yang paling selalu tersedia adalah Sup Ayam . Itulah menu favorit Beno. Dan selama lima bulan ini nyaris tak pernah ia rasakan sup ayam. Hotel memang menyediakan tapi tetaplah soal rasa hanya bumbu racikan sang istri lah yang juara. Beno masih memandangi langit-langit dan lambat laun matanya terpejam. Pikirannya masih melayang. Ia seolah terjun ke lorong waktu pada saat kali pertama ia bertemu dengan sang istri lalu meminangnya.
Kurang lebih sembilan tahun yang lalu setting berlatar di kota kembang.
Beno adalah laki lajang penjual kue jajanan pasar. Ia memproduksi dan memasarkan dagangannya ke setiap pasar. Ia bangun jam 4 shubuh lalu menyiapkan semua dagangannya untuk di kirim. Setiap hari rutinitasnya adalah berdagang. Keuntungannya ia kumpulkan setiap hari. Ia bertekad bahwa kelak uang tersebut akan digunakan untuk biaya nikah. Untungnya, sedari kecil ia dibiasakan prihatin oleh kedua orang tua-nya oleh karena itu bukan hal yang sulit untuknya menabung. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita. Saat kali pertama bertemu, ia merasakan suatu hal yang beda. Ia seperti dibisiki oleh intuisi bahwa wanita itu adalah jodohnya. Jika di katakan mengapa? Beno tidak bisa menjawab secara gamblang dia hanya mengatakan, "saya merasa dia sebagai pelengkap hati saya dan saya ingin menikahi wanita ini ..." . Just it.
Beno mencoba bicara dengan orang tua yang kini menjadi mertuanya dengan membawa cinta dan satu cincin pernikahan ia melamar sang istri.
Awalnya orang tua sang istri tidak menyetujuinya, tapi karena keyakinan sang istri untuk maju maka orang tua pun merestui.
Dengan mahar yang seadanya dan pesta yang sederhana, mereka sah menjadi sepasang suami-istri. Beno begitu bahagia begitu pun sang istri . Beno meminta agar sang istri ikut dengannya tinggal di kota Jogja.
Beno bertekad untuk mengubah nasib. Ia berjanji akan membuka sebuah toko kue agar sang istri tidak perlu lagi bekerja di perusahaan orang lain.
Lalu sang istri menyetujui usulan Beno. Dan kehidupan pun berlanjut di Kota Jogja.
Disana, mereka sungguh menderita. Mereka tidak punya tempat tinggal, makan seadanya dan tidak bisa membeli apapun.
Uang tabungan Beno di saat lajang sudah mulai menipis untuk biaya hidup sehari-hari. Banyak produk kue yang di reject oleh beberapa toko kue bahkan warung kelontongan pun tidak menerima produk Beno.
Tiap hari sang istri menangis, dia mencoba kuat namun dikala semuanya terhimpit dia meminta untuk kembali ke Bandung. Ia ingin kembali bekerja sebagai accounting tapi Beno tidak menyetujui ide sang istri ,
Ia berusaha meyakinkan sang istri untuk tetap bersamanya karena baginya sumber kekuatan Beno untuk bertahan adalah sang Istri.
Dengan penuh keikhlasan sang Istri mengiyakan, dia tetap berperan baik sebagai istri yang selalu mendukung suami dalam keadaan apapun.
Mereka mulai kehidupan dari nol. Istri membantu Beno membuat kue. Di mulai dari jam 10 malam sampai 4 pagi, mereka kompak membuat beberapa makanan jajanan pasar.
Tiap kali kue-kue itu tidak di pasarkan, mereka membagikannya ke fakir miskin di jalanan. Kadang mereka juga sengaja mengunjungi satu panti asuhan dekat kontrakan untuk membagikan makanan- makanan itu. Daripada mubazir, pikirnya.
Suatu hari, sang istri mendapati tabungan yang tinggal tersisa Rp.50.000,-. Dan itu hanya cukup untuk atau makan 1 hari saja.
Sang istri bingung mrnggunakan uang tersebut. Antara membelanjakan makanan untuk di makan atau untuk modal. Mereka benar-benar terlihat frustasi.
Sampai pada akhirnya, Beno memutuskan untuk menggunakan uang terakhir itu untuk modal usaha mereka. Sang istri begitu panik mendengar keputusan Beno, ia hanya takut salah langkah.
Apalagi jika uang ini di habiskan tanpa tersisa, mereka makan bagaimana?
Tapi Beno bersikeras meyakinkan sang istri bahwa hari itu akan ada hasil yang positif. Sempat melewati beberapa perdebatan akhirnya sang istri pun mengalah dan mengikuti imam keluarga (red: Beno).
Hari itu pun datang, hari dimana segala doa telah di dengar dan di kabulkan oleh Sang Pencipta.
Hari itu adalah hari Jumat. Beno dan istri mulai memasarkan dagangannya ke warung-warung yang kali ini jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Di jalan, mereka menemukan seorang pria yang terngengap-engap kesakitan. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu depan mobil sambil memegang dada kirinya.
Beno dan istri segera menghampiri orang itu lalu membantunya masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Pengusaha itu kelihatan begitu kesakitan. Untunglah nyawanya masih terselamatkan, saat itu ia di bawa ke ruang UGD dan di tangani langsung oleh dokter ahli jantung.
Pria itu kena serangan jantung dan kalau saja telat beberapa menit maka nyawanya akan melayang. Saat mengetahui kabar tersebut, keluarganya begitu berterimakasih pada Beno dan istri.
Lalu , Beno di tawarkan manjadi salah satu pemegang kuasa di perusahaan ritel milik pengusaha kaya itu karena selain sebagai ucapan terimakasih. Pengusaha itu percaya dengan kinerja Beno yang jujur dan berpotensi.
Sampai saat ini Beno sering keluar kota untuk mengurus beberapa pertemuan dengan pemegang saham yang lainnya.
Beno lebih sering meninggalkan istrinya di Jogja tapi untuk hanya untuk beberapa bulan saja. Dari hasil gaji yang ia dapatkan, ia sisihkan untuk janjinya kepada sang istri .
Sebelum ke Jogja, ia berjanji suatu saat akan membuka toko kue dan yang mengelola adalah istrinya sendiri. Dan janji itu pun terpenuhi.
**
Beno masih berbaring dan seketika ia berguman, " Aku kangen kamu, bu."
Air matanya menetes di pelipis kanan , perlahan ia hapus air mata telunjuk kanannya. Ia mencoba meraih handphone yang ada di ujung ranjang.
Saat melihat layar handphone ia mendapatkan satu pesan
_____________________________________________________________________________
Friday, May 3th 2013
Fr : Ibu Sayang
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ayah, gimana meeting hari ini? semoga selalu lancar ya. Selalu jaga kesehatan ya ayah, makan yang teratur lho. Ayah gampang sakit soalnya, ibu ga ingin ayah masuk angin.
Ibu disini selalu berdoa untuk ayah dan kita. Ibu masih tetap nunggu ayah..cepat pulang yah. Ibu kangen sekali.
Ayah, ibu ingin cerita. Ayah percaya, selama lima bulan ini setiap hari ibu makan sup ayam yang biasa ibu sediakan saat makan malam bersama ayah. Itu cara ibu agar kangen ini terobati yah.
Ayah, baik-baik disana ya. selalu ingat pesan ibu : ikhlas dan tersenyumlah.
and one things you must know, I always love you and will always miss you :') Here, I'm waiting for you come back.
Tanpa sadar air mata Beno kembali meluncur dan kali ini cukup deras. Ia merasa begitu beruntung memiliki sesosok istri yang lengkap dengan cinta, kasih dan kesetiaan.
Tanpa buang waktu ia menekan tombol balas.
--------------------------------
To : Ibu Sayang
--------------------------------
Telepati kita terlalu hebat bu. Rindu saya begitu dahsyat untuk kamu bu.
Raga saya disini terlihat baik tapi bathin ini tidak baik karena kamu tidak di sisi saya sekarang. Tapi saya akan mencoba sekuat tenaga saya agar segera menyelesaikan tugas saya disini.
Perlu ibu tahu mengapa saya bisa mengatakan bahwa saya adalah pria paling beruntung di dunia. Itu karena kamu bu, Kamu satu- saatunya orang yang menerima saya secara paket. Menemani saya dari 'nol', menyemangati saya ketika saya sedang susah, melayani saya dengan baik, selalu mengharapkan kehadiran saya setiap hari, mengasihi saya dengan tulus. Bagi saya itu kesempurnaan yang tidak ternilai harganya. Alangkah bodohnya jika saya menghianati kepercayaanmu bu. Terimakasih untuk kasih sayangmu bu . Tunggu ayah pulang ya...
I always love and much miss you
---sending----
-delivered-
yang bulan mei postingannya baru 4?? sibuk banget ya mbak?? ehehehe
BalasHapushehehe, bulan juni diusahakan posting lebih banyak ya :)
BalasHapus