Langsung ke konten utama

Jangan Hopeless Sebelum Fighting

Judul posting kali ini seolah menguatkan saya bahwa masih ada harapan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Sudah menjadi lumrah jika seseorang memiliki satu masalah rumit dalam hidupnya dan secara alamiah hal tersebut akan dirasakan setiap orang. Entah bagaimana alurnya, semua pasti pernah merasakan kesedihan dan putus asa.
Tapi satu hal yang perlu menjadi sebuah pegangan dari semua masalah yang di hadapi ada sebuah Harapan. 
Secara umum masalah terberat yang dihadapi kebanyakan orang adalah masalah ekonomi. Berhubung uang adalah alat vital untuk kelangsungan hidup. 
Disini saya akan menceritakan gambaran yang saya alami tentang masalah yang satu ini. Bukan maksud mengumbar atau membuka aib tentang diri sendiri, hanya saja saya ingin berbagi pengalaman dengan kalian. Mudah-mudahan ada pembelajaran dari kisah ini.

Foto :Lora Zomby
Bismillah..
Pertama-tama, saya dilahirkan dari keluarga yang tidak bergelimpangan harta, bisa di katakan kecukupan walaupun kadangkala mengalami kesusahan juga (re: saat tanggal tua).
Saya mulai belajar memaknai sebuah hidup ini ketika saya lulus SMA. bukan bukan tapi ketika saya berusia 15 Tahun. Tepatnya ketika saya menerima kelulusan SMP dengan hasil yang sangat buruk sehingga harus menelan ludah dinyatakan bahwa saya di tolak bersekolah negeri. Sekolah yang sudah dinobatkan sebagai sekolah impian karena nilai prestise nya. 
Layaknya seorang gadis remaja mendapatkan kenyataan buruk seperti itu sungguh sulit menerimanya. Saya meminta mamah dan papah untuk menyekolahkan saya di swasta yang mahal. Tetapi keinginan saya itu tidak bisa dikabulkan, begitu marah dan kesal ketika orang tua saya mengatakan tidak bisa. Alasan mereka adalah terpentok oleh biaya jika menyekolahkan saya di tempat bergengsi seperti itu. Akhirnya dengan terpaksa saya mengikuti semua yang sudah diatur oleh kedua orang tua.
Saat pendaftaran murid baru di buka mamah sengaja tidak memberitahu saya tentang asal muasal uang itu. Saya pikir itu adalah omset yang mamah terima hari itu. Mamah hanya meminta saya datang dan melihat-lihat lingkungan calon sekolah saya itu. Dengan muka muram saya mendatangi sekolah yang awalnya adalah "penjara" lalu berkeliling mengamati satu per satu sudut sekolah. Setelah beres menyelesaikan administrasi saya pun resmi menjadi murid di sekolah SMA Kartika Siliwangi 3.
Sesampainya di rumah mamah baru menjelaskan sumber dana yang mamah sediakan untuk pendaftran sekolah saya itu. Saya tercengang mendengar pengakuan mamah yang mengatakan kalau uang yang di bayarkan itu adalah hasil bantuan dari Om Budi, adik mamah. Saya ingat total daftar masuk sekolah itu sebesar Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) . Nominal itu tidaklah besar jika di bandingkan dengan sekolah sekolah bergengsi di Kota Bandung. Malah bisa di katakan sangat minim biaya. Tapi uang sekecil itu pun adalah hasil sumbangan? kenapa bisa? Masalah apa yang sedang terjadi menimpa keluarga ini? kenapa mamah sampai harus meminjam dana untuk sekolah saya?. Begitu banyak tanda tanya yang bermunculan di otak.
Lalu disambung penjelasan papah yang mengatakan kalau usaha yang mereka rintih itu diambang kehancuran. Semakin hari omset yang didapatkan semakin kecil bahkan mereka perlu modal lagi untuk menutupi hutang bank yang kian hari bunganya kian membengkak.
Mendengar semua itu rasanya seperti di hantam satu sak semen 60Kg. Kepala saya tertunduk saya mencoba menghindari dan tak kuasa saya menitihkan air mata. Saya lari ke kamar mengunci diri . 
Sungguh tidak kuat melihat keduanya memelas seperti itu. Melihat wajah mereka seperti ingin menyampaikan "sudah sangat bersyukur kami masih bisa menyekolahkan kamu,nak!" 

"Saya malu Ya Allah..."  Saya menangis terisak karena malu sudah berprasangka buruk pada orang tua saya. 
Ternyata alasan mereka tak bisa mengupayakan keinginan saya adalah ini?
Betapa bodoh dan egois sikap saya yang mementingkan diri sendiri selalu menutup mata dan telinga tentang kondisi keluarga.
"Maafkan saya Ya Allah, Maafkan saya...."

Itulah pertama kalinya saya mengecap sebuah kehidupan yang penuh dengan drama. Saya adalah aktor dalam kehidupan saya dan harus membuat kisah "Part I" ini happy ending. 

Seiring waktu saya belajar untuk menjadi gadis remaja yang berfikir. Dan "Part I" ini saya isi dengan sebuah misi untuk tidak merepotkan orang tua bahkan orang lain. Misi itu saya salurkan pada kegiatan positif di sekolah, yang salah satunya ikut kegiatan Organisasi Siswa. Belum kenyang dengan itu setiap istirahat saya habiskan waktu di perpustakan untuk belajar dan ditambah usaha saya belajar dari tengah malam hingga shubuh. Saya usaha tak henti karena satu harapan.. Harapan itu adalah Beasiswa. 
Beasiswa yang di berikan kepada murid berprestasi dengan imbalan bebas biaya iuran bulanan selama satu tahun. 
Alhamdulillah wa syukurillah, Harapan tidak hanya sebuah impian belaka tapi menjadi kenyataan. Saya mendapatkannya selama 3 Tahun berturut-turut. Saya di bebaskan biaya iuran setiap bulannya dan di OSIS saya menjabat sebagai Ketua . 
Sungguh di luar dugaan. Sejak saat itu gairah hidup pun kembali normal. 
Di penghujung masa kelulusan SMA saya mendapatkan kabar baik lagi dari salah satu Universitas Negeri Bandung bahwa aplikasi yang saya ajukan melalui program PMDK pun di approve
Saya langsung diterima menjadi calon mahasiswa tanpa tes karena hasil rapor saya memenuhi kriteria penilaian panitia di sana.
Saya pikir inilah akhir cerita Part I . Happy ending, bukan?
Tapi ternyata dugaan saya salah ini bukan suatu ending.. karena setelah itu hidup saya kembali berotasi. Seketika kekecewaan itu datang lagi, alasannya karena saya tidak bisa berkuliah. Dan lagi-lagi karena hal bodoh. Uang. Uang yang sedikit mengharuskan saya melepaskan impian saya berkulah. Orang tua saya tidak sanggup membayar pendaftarannya yang sebesar Rp.6.000.000,- (enam juta rupiah).
Ironisnya, impian saya harus dikalahkan dengan uang seminimal itu (:dijaman sekarang) . Melihat perjuangan orang tua, saya pun menjadi haru. Mereka rela melepaskan motor satu-satunya yang hanya laku seharga Rp.3.000.000,- (tiga juta rupiah). Setengah harga lagi saja tersedia, mungkin sekarang ini saya sudah mendapat semester ke-7 menjadi mahasiswi di jurusan Pemetaan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Tapi itulah Part I yang harus saya selesaikan. . sebuah cerita bersambung yang saya sendiri belum tahu ending nya seperti apa.
Secara kesimpulan, saya adalah aktor yang baik dalam kehidupan saya. Dikala sedih saya bisa tersenyum karena sebuah harapan dan di kala senang saya tetap harus bermawas diri dengan cerita selanjutnya. 
Bumbu dari kehidupan ini adalah masalah yang datang silih berganti, satu masalah selesai datang masalah baru. tapi lebih penting untuk menghadapinya dulu ketimbang menyerah tanpa harapan sama sekali. 
Dan Racikan yang terbaik dalam kehidupan adalah 25% Harapan ; 50% Perjuangan ; 25% Keikhlasan .
Maka, jangan Hopeless sebelum Fighting
Tuhan pasti memberi jalan terbaik dan saya percaya itu. Begitu pun dengan kalian (?) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menganalisa Persentase Bangunan dan Material

"Dita, mulai sekarang kamu sering-sering ke belakang ya. Lihat lapangan lalu analisis persentase pembangunan rumah-rumah yang sedang kita bangun buatkan juga saya laporan total material Yang terpakai. Tidak hanya melihat patokan RAB saja ya."   Begitulah kira-kira kalimat yang diucapkan atasan saya beberapa bulan kebelakang. Well, dengan kata lain mulai hari itu tugas saya di kantor bertambah, "Wadaww! gaji saya kapan nambah pak?" *Twew* dumel saya dalam hati.  Awalnya memang saya merasa ga ikhlas sih nerima kerjaan ini. Selain karena "ehem"-nya saya juga takut kerjaan saya jadi banyak yang keteteran gara-gara ini. Apalagi saya sering sekali melakukan keteledoran: by my own admission that is a bad habit . Uh! apalagi kalau di tambah seperti ini sudah tentu ingin nangis (cengeng, buk!)   Tapi ah, gimana mau tahu kemampuan diri kalau belum mencobanya. Kalau salah kan bukan berarti 100% kesalahan saya toh, ini bukan pekerjaan pokok saya. Lagipul...

TEORI ASAL USUL KEHIDUPAN

Teori asal usul kehidupan di bagi kedalam dua bagian, diantaranya : 1. Teori Abiogenesis          yaitu bahwa mahluk hidup berasal dari mahluk tak hidup. Tokoh yang menprakarsai teori tersebut adalah Aristoteles, tokoh pendukung teori ini diantaranya; Antonyvan Leeuwenhook dan John Needham. Contoh percobaan Abiogenesis 2. Teori Biogenis          yaitu bahwa semua kehidupan berasal dari sel telur ( omne vivum ex ivo), semua sel telur berasal dari kehidupan (omne ovum ex vivo), semua kehidupan berasal dari kehidupan ( omne vivum ex vivo ) . Teori tersebut berdasarkan pada percobaan yang dilakukan pada percobaan kontrol dan percobaan perlakuan. Tokoh yang memprakarsai teori tersebut adalah F. Redy, Lazzaro Spalanzoni, Louis Paster. Contoh percobaan Biogenesis. 1. Percobaan F. Redy  2. Percobaan Lazzaro Spalanzani 3. Percobaan Louis Pasteur 

Tentang 11 Januari

Foto : Internet Inilah kami saat bersama setelah ikrar suci yang kami ucapkan di 11 Januari tiga tahun silam. Bagi saya 3 tahun waktu yang cukup untuk bisa saling memahami satu sama lain.  Kami biasa melewatkan waktu pagi setelah sholat shubuh dengan duduk santai berdua di gazeboo ditemani coklat panas, donat toping keju dan embun pagi untuk sekedar berdiskusi tentang toko kue yang kami bangun bersama sejak tahun 2010, lalu pekerjaan utama kami sebagai karyawan saya di perusahaan developer dan dia di bidang advertisiment . Dialah imamku dan akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Kami memang belum dianugrahi mahluk-mahluk kecil namun kami berkeyakinan suatu saat mahluk kecil itu akan datang dan meramaikan rumah kami.  Kali ini saya akan membuat pengakuan, kali ini saya ingin berseru, " Saya bangga dan akan selalu bangga punya dia!".  Mungkin ini terkesan berlebihan tapi itulah yang saya rasakan dia selalu setia menemani saya, dia yang memberikan motivasi...