Langsung ke konten utama

Kena Imbas Karena Tidak Teliti

Ketika di hadapkan sebuah masalah rasanya ingin kembali menjadi gadis kecil berumur 5 Tahun.

Itu yang saya eluhkan ketika saya sedang merasa suatu hal yang di hadapan saya itu menyulitkan.
Seperti tempo hari, saya benar-benar dalam keadaan darurat.
Berawal memang dari kesalahan saya yang berdampak negatif untuk banyak banyak orang (dibaca: orang sekantor)

Jadi kira-kira satu minggu yang lalu, saya diutus atasan saya untuk melakukan transaksi melalui Bilyet Giro.
dan sehari sebelumnya saya di perintahkan untuk mengisi Bilyet Giro. saya tulis nominal, nomor rekening tujuan, nama pemilik nomor rekening dan nama bank rekening tersebut. 
Setelah selesai giliran yang berkuasa untuk bertanda tangan di giro tersebut. 
Yang berkuasa tandatangan di bilyet giro tersebut adalah 2 Direksi di kantor saya.
Salah satu direksi itu menanyakan pada saya apakah semua yang saya tuliskan sudah tepat dan benar. 
Dengan percaya diri saya menjawab "Sudah pak, sudah saya koreksi lagi" 
akhirnya setelah selesai di tanda tangan, saya masukan Bilyet Giro itu ke dalam amplop putih .
Saya bawa pulang dan berencana keesokan harinya di transaksikan.

Hari pun berlalu

**
Tepat di hari Kamis, dengan ringannya saya membawa dua Bilyet Giro ke salah satu Bank Negeri daerah Margahayu Kota Bandung.
Sampai disana tepat pukul 08:30//
saya rasa itu belum terlambat.
untuk transaksi yang menggunakan giro harus melalui proses Kliring atau RTGS 
Prinsipnya keduanya sama, memiliki peraturan waktu transaksi. Untuk transaksi tersebut harus di bawah pukul 09:00,
perbedaannya hanya di biaya dan lamanya waktu untuk dana yang sampai di rekening tujuan. 
Dan saya memilih yang biayanya lebih ringan. 
Kliring. Hanya 15.000 saja, sedangkan RTGS 2 X lipat dari itu.
Bukan hanya itu, alasan saya memilih kliring pun karena menurut saya uang yang di transfer tidak urgent harus ada dalam waktu yang singkat, makanya saya pikir kliring cukup.
Well, saya menyodorkan 2 lembaran kertas slip pengiriman uang di meja teller.
Cukup percaya diri saya ketika itu.
Biasanya saya mengoreksi kembali hasil tulisan saya dan ini tidak.
Karena waktu itu saya pikir waktunya mepet. Akhirnya bertransaksilah saya di teller.

Sayangnya, saya waktu itu mendapatkan antrian di teller yang menurut saya dia belum mengerti jelas tentang perbankan.
Bukan maksud saya merendahkan mba-mba teler itu, tapi sebelumnya saya pernah juga kejadian. 
Saya transaksi dan dia salah mengetik, sampai validasi yang tercetak tidak sesuai dengan pengisian slip setor tulisan saya... "Ampun dj!"
Tapi saya mencoba untuk berpositif thinking walaupun sebenarnya masih ragu.
Tapi ya sudahlah...

10 menit berlalu, dua transaksi giro ke rekening bank lain pun selesai.
Tapi, hati saya sedikit tidak yakin. Saya kembali memeriksa lembaran yang sudah di sahkan teller.
Saya lihat jumlahnya, sudah benar.
Dan akhirnya saya pun kembali ke kantor untuk beraktifitas lagi.

Dikantor saya sudah melupakan keraguan saya.
lalu saya menelepon orang yang beratas nama rekening tujuan itu, memberi kabar bahwa saya sudah melakukan transaksi dan berharap sore nanti ia memeriksa apakah saldonya sudah bertambah atau belum.
Ia hanya menjawab.
"baru besok saya check". jawabnya singkat.
"oke makasih" balik singkat.

Keresahan mulai terjadi di hari Jumat.
Pukul 15:00, telepon kantor berdering.
Saya pun mengangkatnya.
"Halooo, selamat siang." sapa saya

"Dit, kok uangnya belum sampai. Saldo di rekening saya masih nol" jawabnya tanpa basa basi

" HAH.. ko bisa ya? coba saya konfirmasi dengan bank tempat saya bertransaksi, mungkin ada kendala"
jelas saya dengan nada resah.

*KLIK

dengan jantung yang dag-dig-dug saya mengambil buku telepon di laci meja saya.
saya angkat gagang telepon dan menekan 7 digit nomor tujuan.
"Selamat siang dengan *** Margahayu Bisa di Bantu ? " Greeting 

" Iya selamat siang, saya Dita dari PT. *** mau bertanya mengenai transaksi giro saya kemarin, kenapa bisa belum sampai di rekening tujuan?"

" maaf bisa disebutkan debet rekeningnya?"

"oh ya baik, bla-bla-bla...dengan Bilyet Giro No.. bla-bla-bla. Itu gimana bisa di informasikan kendalanya?"
Teller itu diam sejenak lalu menjelaskan.

" Di sini belum ada tolakan kalau memang terjadi kesalahan, mungkin bisa check ulang untuk tujuan nomor rekeningnya."

" Oh baik, saya akan check ulang untuk validasinya. "

" Baik , terimakasih. selamat siang"

Dengan penuh kegelisahan saya pun mengecek validasi tiap lembar lembarnya.
Badan pun seketika panas dingin ketika melihat nomor rekening tujuan itu kurang satu digit belakang.

" Astagfirulloh, Astagfirulloh, gimana ini Ya Allah....."

Pikiran saya tidak karuan
telepon saya pun berdering di susul dengan pesan masuk.
Lalu saya menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri sejenak. 
saya ambil Hp yang tergeletak diatas meja kerja dan membaca pesan masuk tersebut. Ternyata pesan itu dari pemilik rekening itu.

Pesannya bernadakan ia kesal terhadap saya, 
"dit, gmn jadinya. masak aku di suruh nunggu di atm . tolong secepatnya di kabari"

Peredaraan darah saya seperti berhenti. 
Saya tidak tahu harus berbuat apa, saya bingung - bimbang - lemesss.....
Kalau saya balas sms nya dan mengabarkan keadaaan yang sebenarnya, harga diri guys!!
this my fault. you know, if I pointed out there... unimaginable!
itu gengsi saya yang bicara.
Tapi saya harus punya satu tindakan.
Up with all prestige, I dont care about it!
Yah, memang sudah seharusnya saya harus mengambil semua resiko yang terjadi.
Karena kesalahan saya.

**
Cerita akhir adalah.. semua kena imbas dari perbuatan saya.
Semua ajuan dana untuk upah mingguan tertunda.
Namun, sujud syukur proses sampai normalnya itu tidak sulit.

Allah masih memberikan keajaiban. 

Dan semoga hal ini tidak terulang kembali...amiinn... **

Intinya : pelajaran sekali untuk orang-orang yang merasa dirinya kurang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menganalisa Persentase Bangunan dan Material

"Dita, mulai sekarang kamu sering-sering ke belakang ya. Lihat lapangan lalu analisis persentase pembangunan rumah-rumah yang sedang kita bangun buatkan juga saya laporan total material Yang terpakai. Tidak hanya melihat patokan RAB saja ya."   Begitulah kira-kira kalimat yang diucapkan atasan saya beberapa bulan kebelakang. Well, dengan kata lain mulai hari itu tugas saya di kantor bertambah, "Wadaww! gaji saya kapan nambah pak?" *Twew* dumel saya dalam hati.  Awalnya memang saya merasa ga ikhlas sih nerima kerjaan ini. Selain karena "ehem"-nya saya juga takut kerjaan saya jadi banyak yang keteteran gara-gara ini. Apalagi saya sering sekali melakukan keteledoran: by my own admission that is a bad habit . Uh! apalagi kalau di tambah seperti ini sudah tentu ingin nangis (cengeng, buk!)   Tapi ah, gimana mau tahu kemampuan diri kalau belum mencobanya. Kalau salah kan bukan berarti 100% kesalahan saya toh, ini bukan pekerjaan pokok saya. Lagipul...

TEORI ASAL USUL KEHIDUPAN

Teori asal usul kehidupan di bagi kedalam dua bagian, diantaranya : 1. Teori Abiogenesis          yaitu bahwa mahluk hidup berasal dari mahluk tak hidup. Tokoh yang menprakarsai teori tersebut adalah Aristoteles, tokoh pendukung teori ini diantaranya; Antonyvan Leeuwenhook dan John Needham. Contoh percobaan Abiogenesis 2. Teori Biogenis          yaitu bahwa semua kehidupan berasal dari sel telur ( omne vivum ex ivo), semua sel telur berasal dari kehidupan (omne ovum ex vivo), semua kehidupan berasal dari kehidupan ( omne vivum ex vivo ) . Teori tersebut berdasarkan pada percobaan yang dilakukan pada percobaan kontrol dan percobaan perlakuan. Tokoh yang memprakarsai teori tersebut adalah F. Redy, Lazzaro Spalanzoni, Louis Paster. Contoh percobaan Biogenesis. 1. Percobaan F. Redy  2. Percobaan Lazzaro Spalanzani 3. Percobaan Louis Pasteur 

Tentang 11 Januari

Foto : Internet Inilah kami saat bersama setelah ikrar suci yang kami ucapkan di 11 Januari tiga tahun silam. Bagi saya 3 tahun waktu yang cukup untuk bisa saling memahami satu sama lain.  Kami biasa melewatkan waktu pagi setelah sholat shubuh dengan duduk santai berdua di gazeboo ditemani coklat panas, donat toping keju dan embun pagi untuk sekedar berdiskusi tentang toko kue yang kami bangun bersama sejak tahun 2010, lalu pekerjaan utama kami sebagai karyawan saya di perusahaan developer dan dia di bidang advertisiment . Dialah imamku dan akan menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Kami memang belum dianugrahi mahluk-mahluk kecil namun kami berkeyakinan suatu saat mahluk kecil itu akan datang dan meramaikan rumah kami.  Kali ini saya akan membuat pengakuan, kali ini saya ingin berseru, " Saya bangga dan akan selalu bangga punya dia!".  Mungkin ini terkesan berlebihan tapi itulah yang saya rasakan dia selalu setia menemani saya, dia yang memberikan motivasi...