Mas Nando panggilan saya untuknya.
Ga tau kenapa rasanya saya ingin cerita tentangnya.
Mungkin karena saat ini saya merindukan sosoknya.
Yups!
Tepat sudah satu tahun saya tidak bertemu dengannya.
Dan hampir satu tahun sejak awal perkenalan dia sudah menjadi kakak yang baik untuk saya.
Saya senang sekali bisa bertemu dan kenal dengannya.
**
Mas Nando itu adalah rekan kerja saya satu tahun lalu.
Kini, ia sudah tidak lagi menjadi rekan kerja saya.
Yaa.. dia resign dan memilih untuk menerima tawaran kerja di Kota Bali.
Tapi, walaupun kami sudah tidak satu atap pekerjaan, kami masih bertegur sapa baik via telepon ataupun jaringan sosial.
Awal cerita tentangnya...
Saya mengenalinya di pertengahan Februari 2010.
Pertama kali itu bertemu, pembawaannya hangat sekali.
Dia pertama kali menyapa saya.
"Haloo... anak baru ya? Aku Nando." sapanya.
"Iya.. aku Dita." balas saya.
dan kami pun berdialog.
jarak umur kami berdua cukup jauh. Kurang lebih delapan tahun.
Dia bekerja sebagai Legal marketing di perusahaan tempat kami bekerja.
Mas Nando itu orangnya tulus dan perasa.
dia juga pandai menghangatkan suasana,
tutur katanya lembut. Pembawaannya dewasa, sudah pasti paket pria 'sempurna' cocok di sandangnya.
Saya bisa tahu dan dekat dengannya pun tidak membutuhkan waktu yang lama.
Mas Nando sangat asyik diajak bicara, dia juga banyol.
setiap dekat dan bicara dengannya sudah tidak ada rasa canggung atau kaku.
Saya jadi ingat, waktu dulu Mas Nando gemar sekali memanggil saya dengan sebutan Ditong
pertama-tamanya sih saya sempat mengerutkan dahi
'kok nama udah bagus DITA eh! malah dipanggil Ditong.' desah saya.
tapi karena setiap harinya selalu di sebut itu, lama-lama saya pikir lucu juga sih... hehe!
Terus, di sela-sela waktu senggang.
saya dan Mas Nando tidak pernah melewatkan untuk bercerita tentang apapun.
termasuk tentang kehidupan pribadi masing-masing.
entah menceritakan keluarga, motivasi, motto hidup atau bahkan menceritakan pengalaman dengan pacar masing-masing.
**
Hari ke hari saya mulai merasakan nyamannya bekerja.
Teman-teman di sana sangat ramah itu yang membuat saya bersemangat bekerja.
Terutama karena Mas Nando.
Yups! saya paling senang kalau Mas Nando stand by di kantor.
Bukan dalam artian senang berarti cinta, bukan ya?
no..no...no.....
Senang karena disaat itulah saya banyak bertukar pikiran dengannya.
Banyak hal yang saya saring dari sosoknya itu.
Ia ramah, pintar, kreatif, bersuara merdu, dewasa dan yang paling utama dia memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Dia juga tidak pernah mengeluh untuk mengajari saya ini itu,
tentu notabene-nya saya ini memang agak sulit menyerap ilmu baru secara tanggap dan cekat.
hehehe.
Dia juga tidak pernah bosan memberikan motivasi ketika saya sedang dalam keadaan kalap dipekerjaan.
Karena jalan pulang kami searah, kami pun sering pulang bareng. Yah, walaupun tidak satu kendaraan.
Terkadang Mas Nando menuntun saya dari belakang.
Biasanya rute yang kami lewati dari kantor itu adalah perempatan Soekarno Hatta- IbrahimAdji- Jembatan layang kircon- Jl. Jakarta- Supratman dan sampai di persimpangan jalan pusdai kami berpisah.
**
Pernah satu hari disaat kami 'bebas' (dalam artian : kerjaan beres), Mas Nando bercerita tentang kehidupannya dulu.
Hampir 1/2 dari cerita hidupnya, ia ceritakan pada saya.
saat saya menendengar satu per satu. Cukup tercengang saya mendengar ceritanya, ternyata Mas Nando pun merasakan kerikil-kerikil kehidupan.
Kira saya ia selalu bahagia, tapi ternyata tak jauh beda kami pun punya persamaan dalam beberapa cerita.
Sekedar meng-klopkan suasana, saya pun menceritakan 1/2 tentang kehidupan saya kepadanya.
Dan sampai pada kesimpulan cerita, sejak itulah Mas Nando bilang pada saya,
"Dit, kalau ada masalah kita cerita-cerita ya. Barangkali kita bisa saling bantu."

Itu kalimat Mas Nando yang tidak akan pernah saya lupakan...
Ga tau kenapa rasanya saya ingin cerita tentangnya.
Mungkin karena saat ini saya merindukan sosoknya.
Yups!
Tepat sudah satu tahun saya tidak bertemu dengannya.
Dan hampir satu tahun sejak awal perkenalan dia sudah menjadi kakak yang baik untuk saya.
Saya senang sekali bisa bertemu dan kenal dengannya.
**
Mas Nando itu adalah rekan kerja saya satu tahun lalu.
Kini, ia sudah tidak lagi menjadi rekan kerja saya.
Yaa.. dia resign dan memilih untuk menerima tawaran kerja di Kota Bali.
Tapi, walaupun kami sudah tidak satu atap pekerjaan, kami masih bertegur sapa baik via telepon ataupun jaringan sosial.
Awal cerita tentangnya...
Saya mengenalinya di pertengahan Februari 2010.
Pertama kali itu bertemu, pembawaannya hangat sekali.
Dia pertama kali menyapa saya.
"Haloo... anak baru ya? Aku Nando." sapanya.
"Iya.. aku Dita." balas saya.
dan kami pun berdialog.
jarak umur kami berdua cukup jauh. Kurang lebih delapan tahun.
Dia bekerja sebagai Legal marketing di perusahaan tempat kami bekerja.
Mas Nando itu orangnya tulus dan perasa.
dia juga pandai menghangatkan suasana,
tutur katanya lembut. Pembawaannya dewasa, sudah pasti paket pria 'sempurna' cocok di sandangnya.
Saya bisa tahu dan dekat dengannya pun tidak membutuhkan waktu yang lama.
Mas Nando sangat asyik diajak bicara, dia juga banyol.
setiap dekat dan bicara dengannya sudah tidak ada rasa canggung atau kaku.
Saya jadi ingat, waktu dulu Mas Nando gemar sekali memanggil saya dengan sebutan Ditong
pertama-tamanya sih saya sempat mengerutkan dahi
'kok nama udah bagus DITA eh! malah dipanggil Ditong.' desah saya.
tapi karena setiap harinya selalu di sebut itu, lama-lama saya pikir lucu juga sih... hehe!
Terus, di sela-sela waktu senggang.
saya dan Mas Nando tidak pernah melewatkan untuk bercerita tentang apapun.
termasuk tentang kehidupan pribadi masing-masing.
entah menceritakan keluarga, motivasi, motto hidup atau bahkan menceritakan pengalaman dengan pacar masing-masing.
**
Hari ke hari saya mulai merasakan nyamannya bekerja.
Teman-teman di sana sangat ramah itu yang membuat saya bersemangat bekerja.
Terutama karena Mas Nando.
Yups! saya paling senang kalau Mas Nando stand by di kantor.
Bukan dalam artian senang berarti cinta, bukan ya?
no..no...no.....
Senang karena disaat itulah saya banyak bertukar pikiran dengannya.
Banyak hal yang saya saring dari sosoknya itu.
Ia ramah, pintar, kreatif, bersuara merdu, dewasa dan yang paling utama dia memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Dia juga tidak pernah mengeluh untuk mengajari saya ini itu,
tentu notabene-nya saya ini memang agak sulit menyerap ilmu baru secara tanggap dan cekat.
hehehe.
Dia juga tidak pernah bosan memberikan motivasi ketika saya sedang dalam keadaan kalap dipekerjaan.
Karena jalan pulang kami searah, kami pun sering pulang bareng. Yah, walaupun tidak satu kendaraan.
Terkadang Mas Nando menuntun saya dari belakang.
Biasanya rute yang kami lewati dari kantor itu adalah perempatan Soekarno Hatta- IbrahimAdji- Jembatan layang kircon- Jl. Jakarta- Supratman dan sampai di persimpangan jalan pusdai kami berpisah.
**
Pernah satu hari disaat kami 'bebas' (dalam artian : kerjaan beres), Mas Nando bercerita tentang kehidupannya dulu.
Hampir 1/2 dari cerita hidupnya, ia ceritakan pada saya.
saat saya menendengar satu per satu. Cukup tercengang saya mendengar ceritanya, ternyata Mas Nando pun merasakan kerikil-kerikil kehidupan.
Kira saya ia selalu bahagia, tapi ternyata tak jauh beda kami pun punya persamaan dalam beberapa cerita.
Sekedar meng-klopkan suasana, saya pun menceritakan 1/2 tentang kehidupan saya kepadanya.
Dan sampai pada kesimpulan cerita, sejak itulah Mas Nando bilang pada saya,
"Dit, kalau ada masalah kita cerita-cerita ya. Barangkali kita bisa saling bantu."

Itu kalimat Mas Nando yang tidak akan pernah saya lupakan...
Komentar
Posting Komentar